Islam Adalah Metodologi Praktis Bukan Semata-Mata Teori Diatas kertas dan Ucapan Belaka


Pada mulanya, aku merasa begitu bahagia dan tercengang, ketika seorang saudara seiman yang bekerja membina para muallaf, memberitahukan kepadaku. “Saudari Sarah, berusia 14 tahun, sekarang sudah masuk Islam, Alhamdulillah.” ujarnya.

Aku segera meneleponnya untuk mengetahui ceritanya, untuk sekedar berdialog dengannya agar kami semua dapat mengambil pelajaran dari keislamannya.

Dalam hatiku aku sudah bertekad, bahwa saat berjumpa aku akan memberi ucapan selamat yang demikian hangat, lain dari biasanya.

Kalau aku tidak diberitahu tentang usianya, tentu aku sudah berkeyakinan bahwa ia sudah jauh lebih tua dari usia tersebut. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepadanya sehingga masuk Islam. Sekarang, kami biarkan pembaca mendengar sendiri penuturan Sarah, tentang keislamannya.

“Namaku Sarah. Saat itu aku telah  berusia 14 tahun. Aku belajar di sebuah sekolah menengah di Amerika Serikat.

Aku mulai mengenal ajaran Islam semenjak tiga tahun yang lalu (Jadi ia sudah mulai mempelajari Islam, saat berusia 11 tahun. Coba renungkan itu, ukhti!)

Aku memang selalu mencari-cari agama yang benar. Aku ingin mengenal seluruh agama yang ada, dan aku pun rela membaca beragam literature yang ada. Aku sudah pernah membaca beberapa buku tentang Islam, dan saat itu juga aku sudah amat tertarik dengan ajarannya.

Teman-temanku tentu saja menganggap aneh dengan antusiasku untuk mengenal Allah. Tapi aku memang dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang meletakkan agama sebagai prioritas dalam hidup. Untuk itu sudah secara naluriah aku begitu perhatian soal agama. Di samping keyakinan lain, bahwa aku harus berupaya mencari agama yang benar, untuk kupeluk, dengan tidak memperdulikan pandangan orang banyak. Saat keluargaku mengetahui aku memperhatikan ajaran Islam, mereka segera berupaya menghalangiku untuk membaca buku-buku Islam. Tahun itu juga, aku masuk tahun ajaran baru di sebuah sekolah menengah, yang banyak diminati oleh kaum muslimin. Saat mengetahui aku memperhatikan ajaran Islam, ayahku memberitahu bahwa kaum muslimin itu tidak lain adalah kaum teroris berdarah dingin, hanya suka menyakiti orang lain saja. Aku sudah mulai mengikat persabahatan dengan dua orang di antara mereka, dan aku mendapatkan mereka hanya berbicara tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang kecintaan dan kebergantungan mereka kepada-Nya.

Dengan cepat, aku bisa menghormati mereka dan menghormati keyakinan mereka. Sampai suatu hari, ada temanku yang non muslimah, membuka percakapan seputar Islam di hadapan mereka. Mereka mulai berbicara tentang Islam, tentang Allah dan tentang Nabi, hingga berjam-jam. Semenjak itu, aku mulai mengikat hubungan dengan ajaran Islam, dan akhirnya aku memeluk Islam, lima bulan kemudian. Alhamdulillah.

Padahal saat itu, aku baru saja membaca beberapa buku agama Islam, tidak lebih.

Anggapan Bahwa Islam Mengeksploitasi Kaum Wanita?

Aku seringkali mendengar bahwa wanita muslimah itu selalu dieksploitasi, karena berbagai ajaran Islam, melalui berbagai media komunikasi dan sejenisnya, yang aku ketahui. Pada hakikatnya, aku menentang tuduhan itu, saat mendengarnya. Karena wanita muslimah justru adalah kaum wanita yang paling merdeka di dunia. Hal itu cukup dibuktikan dengan realitas bahwa seorang muslimah senantiasa mengikuti jalan petunjuk dan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar menjadi wanita paling merdeka di zaman ini. Bahkan aku berniat membuktikan kebenaran ungkapan tersebut. Aku tegaskan :

“Inilah hakikat yang tidak diperhatikan oleh banyak orang. Wanita di barat ternyata hanya menjadi simbol dari seks dan popularitas belaka. Kebanyakan wanita itu mengenakan pakaian sempit yang hanya menutup sebagian kecil tubuhnya. Mereka menggunakan tubuh mereka untuk mencari perhatian, untuk mengundang syahwat. Segala bentuk media komunikasi semakin menambah tekanan dalam gelombang syahwat itu. Bagi mereka, wanita adalah sosok yang memiliki tubuh indah sehingga seluruh wanita berupaya untuk sampai pada standar itu. Selain itu, mereka juga harus berupaya merealisasikan apa yang dituntut oleh media-media komunikasi tersebut, tanpa sedikitpun menghormati Allah, bahkan tanpa secuilpun menghargai diri mereka sendiri.

Aku Ingin Berhijab

“Aku takjub kepada kaum muslimin yang begitu berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama mereka. Aku juga dibuat terkagum-kagum saat melihat kehidupan mereka yang tenang dan penuh kebahagiaan. Aku merasa bahwa rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menyertai mereka. Banyak kalangan non muslim yang merasa sulit mengikuti ajaran Islam. Namun, ajaibnya justru kemudahanlah yang dirasakan seseorang saat ia menjalankan agama ini. Aku tidak lupa menyampaikan rasa takjubku karena budi pekerti kaum muslimin yang demikian baik, serta perhatian mereka dan pertolongan mereka terhadap orang lain…”

Aminat Sarah

“Aku bermimpi untuk menjadi seorang pemimpin wanita di dunia, agar dapat menolong menyebarkan keadilan di tengah masyarakat kita.

Sehingga, aku amat menyukai belajar berbagai bahasa. Karena itu adalah suatu hal yang amat bagus, untuk mencapai tujuanku. Keluargaku bahkan mendukungku untuk juga mempelajari bahasa Arab. Maka, mulailah aku mengikuti salah satu kursus pelatihan bahasa Arab, mulai tahun ini, Insya Allah. Ayahku sendiri dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab, dalam dialek apapun, karena beliau sempat lama tinggal di negeri Sudan.”

Muslim Sejati

“Sesungguhnya seorang muslim hanya dapat menjadi muslim sejati, kalau ia mengikuti ajaran-ajaran agamanya. Itulah salah satu faktor yang mendorongku masuk Islam. Islam adalah sebuah metodologi praktis, bukan sekedar buku bacaan atau berbaris-baris kata saja. Islam bukanlah seperti yang kuingat selama ini. Tapi Islam adalah agama yang paling banyak diterima orang secara rela hati di Amerika dan di seluruh dunia. Pada hakikatnya Islam itu adalah agama yang jelas dan gamblang. Setiap kaum muslimin wajib bergaul dengan seluruh umat manusia, sesuai ajaran Islam. Karena hal itu akan memberikan rasa takjub dan kebahagiaan pada orang lain dan mendorong mereka untuk memeluk Islam. Adapun tentang kaum muslimin yang tidak konsekuen terhadap ajaran Islam, aku hanya bisa menegaskan : “Cobalah meletakkan kepercayaan kepada Allah semata. Jadilah hamba Allah semata. Niscaya kalian akan memperoleh rahmat, kebahagiaan dan ketentraman yang memang kalian butuhkan dalam arti sejati, dan kalian harus berupaya untuk mendapatkannya!

Di tulis ulang dari Buku Ketika Hidayah Menyapa kisah nyata wanita-wanita Muallaf Barat dalam menggapai hidayah (Al-Haaribaat Minal Jahiem), penulis Khalid Abu Shalih, diterjemahkan oleh Ust. Abu Umar Basyir, Penerbit At-Tibyan Solo

Untuk Kita Renungkan wahai saudari-saudariku muslimah perkataan Sarah :

“Inilah hakikat yang tidak diperhatikan oleh banyak orang. Wanita di barat ternyata hanya menjadi simbol dari seks dan popularitas belaka. Kebanyakan wanita itu mengenakan pakaian sempit yang hanya menutup sebagian kecil tubuhnya. Mereka menggunakan tubuh mereka untuk mencari perhatian, untuk mengundang syahwat. Segala bentuk media komunikasi semakin menambah tekanan dalam gelombang syahwat itu. Bagi mereka, wanita adalah sosok yang memiliki tubuh indah sehingga seluruh wanita berupaya untuk sampai pada standar itu. Selain itu, mereka juga harus berupaya merealisasikan apa yang dituntut oleh media-media komunikasi tersebut, tanpa sedikitpun menghormati Allah, bahkan tanpa secuilpun menghargai diri mereka sendiri.

Wanita-wanita barat saja berbondong-bondong masuk Islam dan menggunakan hijab sangat bertolak belakang dengan kondisi di Indonesia. Wanita-wanitanya berbondong-bondong mencampakkan Islam dan meninggalkan perintah memakai hijab!

Memakai pakaian mini dan mengumbar aurat dianggap mensyukuri nikmat dan kelebihan mereka.

Pernahkan kau berpikir. Serigala lapar itu akan mengejar mangsanya secara rakus. Apalagi jika buruannya itu malah menyerahkan diri mereka untuk dimangsa!

Tahukan kamu wahai wanita yang mau berpikir! Laki-laki itu bagaikan serigala yang siap menangkap hewan buruannya!Kenapa kamu malah menyerahkan diri untuk dimangsa?

Ukhti …

Halus kulitmu, Cantik parasmu

Lembut hati dan tutur katamu

Masih kurangkah???

Nikmat mana lagi yang kau dustakan

Ukhti ….

Tahukah kamu???, lihatlah dengan mata hatimu!!!

Karenamu ikhwan terfitnah, terjatuh dan terpuruk

Kau telah di puja-puja, tak malukah kamu??

Sukakah, bahagiakah kamu???

Ukhti….

Nikmat mana lagi yang kau dustakan

Kecantikanmu, keelokanmu, haruskah kau pamerkan

Sudah hilangkah rasa malu itu

Lupakah pada pencipta-Mu

Ukhti…

Tahukah kamu???

Sebaik-baik bidadari itu???

Muslimah, dan Istri yang solekhah!!!

Ga maukah kamu???

Ukhti ….

Kecantikan, kemudaan pasti pudar

Akhirat itu benar adanya

Surga dan neraka itu sudah ada

Tidak takutkah pada siksa-Nya

Ukhti …

Sudah banyakkah amalmu

Sudah cukupkah pahalamu

Tahukah kapan matimu

Neraka atau surgakah akhirmu

Ukhti …

Bukan burung yang bebas terbang kesana kemari

Bukan pula batu, pohon dan rumput liar

Hidup pasti mati, yang pergi pasti kembali

Kita manusia cuma hamba yang hina penuh dosa

Hamba yang tak bisa apa-apa tanpa rahmat-Nya

Hidup di dunia cuma sementara

Akhirat tempat kembali yang kekal dan abadi

Tunduk dan Sujudlah kepada Sang Maha Pengampun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: