3 Teladan Syaikh Ibnu Baz


Berikut tiga teladan Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz. Semoga kita bisa meneladaninya.
Semangat Mendapatkan Shaf Pertama
Syeikh Ibnu Baz pernah menceritakan suatu hal yang menarik yang terjadi ketika beliau muda dan di awal-awal menuntut ilmu agama. Beliau sendiri menuturkan hal ini, “Ada sebuah kejadian yang pernah kualami sendiri. Sampai hari ini aku masih terkesan dengan kejadian tersebut. Kejadian ini terjadi ketika aku masih muda. Aku tergolong orang yang selalu berada di shaf pertama dalam shalat berjamaah. Suatu ketika aku telat datang ke masjid disebabkan membaca beberapa buku yang membahas beberapa permasalahan penting sehingga melalaikan aku dari shalat. Karena terlambat aku tidak mendapatkan shaf pertama dan aku tertinggal beberapa rakaat. Yang menjadi imam masjid adalah hakim kota Riyadh yaitu Syeikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syeikh dan beliau adalah salah seorang guru tempatku untuk menimba ilmu. Setelah beliau salam, beliau melihatku masih mengerjakan shalat di ujung shaf karena tertinggal beberapa rakaat. Realita ini sangat mengesankan diri beliau.
Akhirnya beliau menyampaikan kultum. Salah satu poin yang beliau sampaikan adalah, “Sebagian orang sibuk dengan aktivitasnya sehingga menjadi makmum masbuk”.
Mendengar kalimat tersebut aku mengerti bahwa akulah yang beliau maksudkan. Sejak saat itu aku tidak pernah telat dalam shalat berjamaah. Inilah sebuah peristiwa yang tak akan pernah terlupa dalam hidupku”.
Sungguh kondisi kita dalam masalah terlambat shalat berjamaah sangat memprihatinkan. Sering kali hal ini terjadi pada orang-orang yang mengerti ilmu agama. Duh seandainya yang menyebabkan kita telat shalat berjamaah adalah kesibukan untuk mentelaah kitab-kitab para ulama dan mengkaji beberapa permasalahan yang penting.
Syeikh Ibnu Baz memiliki suatu yang diistilahkan oleh para ulama dengan ibadah waktu. Yaitu jika detik ini adalah waktu untu melakukan suatu ibadah maka beliau akan melakukannya dan meninggalkan suatu aktivitas yang selainnya. Jika adzan terdengar maka beliau akan menghentikan semua ativitas. Jika adzan terdengar ketika beliau berada di kantor beliau sebagai seorang mufti maka beliau hentikan semua kegiatan. Jika beliau sedang menyampaikan pengajian dan adzan terdengar maka pengajian pun beliau hentikan.
Saat beliau berada di kantor beliau sebagai seorang mufti lalu terdengar adzan maka beliau hentikan ativitas beliau. Jika saat muadzin selesai ada pegawai kantor yang datang dan mengatakan, “Wahai syeikh ada permasalahan demikian dan demikian”, niscaya beliau akan berkata, “Engkau tidak menirukan ucapan muadzin?! Engkau tidak mendengarkan adzan?! Engkau masih bekerja ketika ada suara adzan?!”.
Semangat dalam Menerapkan Sunnah
Pada suatu hari-meski kisah ini sebenarnya mengandung guyonan -sebuah gelas berisi jus disuguhkan kepada beliau. Beliau lantas meminumnya. Setelah beliau selesai minum sebuah gelas kedua pun disuguhkan kepada beliau. Beliau mengatakan, “Perutku sudah tidak muat”. Akan tetapi orang yang menyuguhkan terus mendesak beliau agar minum. Setelah gelas kedua beliau minum beliau mengatakan-dengan nada guyon-, “Tuangkan untuk yang ketiga”. Beliau ingin agar berakhir dengan bilangan ganjil.
Ketika beliau sakit yang mengantarkan beliau kepada kematian, jika pelayan beliau ingin memasangkan sepatu atau kaos kaki namun salah karena mendahulukan kaki kiri maka beliau menolak dan menjauhkan kaki beliau hingga pelayan tersebut memulai dengan kaki kanan.
Semangat untuk Memberi Nasehat
Ada seorang yang bercerita bahwa dia mengerjakan shalat di samping Syeikh Ibnu Baz. Setelah selesai shalat, beliau berkata kepada orang tersebut, “Kayaknya aku merasa engkau mendahului imam padahal ini adalah perbuatan yang membatalkan shalat. Tolong perhatikan besok-besok jangan mendahului imam”.
Ada juga orang yang bercerita bahwa dia telah mengerjakan shalat di samping Syeikh Ibnu Baz. Ketika itu beliau sedang mengerjakan shalat tahiyatul masjid sedangkan dia sudah mengerjakan tahiyatul masjid sebelum beliau. Saat beliau shalat aku duduk membaca al Qur’an dengan suara yang keras. Setelah beliau salam, beliau berkata kepada orang tersebut, “Maa sya Allah, bacaanmu bagus. Apakah kau hafal al Qur’an?”. Jawaban orang tersebut, “Aku tidak hafal al Qur’an”.
Beliau berkata, “Tidak pantas bagi orang semisalmu jika tidak hafal al Qur’an. Hafalkanlah al Qur’an, wahai anaku!”.
Orang tersebut berkata, “Sejak saat itu aku mulai menghafal al Qur’an sehingga akhirnya hafalan tersebut bisa aku selesaikan. Beliau mendoakanku. Bahkan dalam waktu yang cukup lama beliau mendoakanku agar menjadi penghafal al Qur’an. Di antara doa beliau untukku adalah, ‘Ya allah, fahamkanlah dia tentang agama dan ajarilah dia tafsir al Qur’an”.
Demikianlah sebuah nasehat ringan bisa sangat berkesan dalam hati orang yang dinasehati. Sebab itu, jangan merasa berat untuk berbagi nasehat
[Diolah dari Ma’alim Tarbawiyyah min Sirah al Imam Abdul Aziz bin Baz karya Muhammad ad Duhaim hal 8-10]
http://ustadzaris.com/3-teladan-syaikh-ibnu-baz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: