Kerusakan-kerusakan dalam Pemilu dan partai


Mohon dibaca dengan mengedepankan rasa untuk mencari kebenaran, bukan dengan rasa fanatik buta kepada kebatilan.

Pelanggaran Syari’at ganda:

Pelanggaran pertama: Pengangkatan wanita sebagai pemimpin bahkan banyak diantaranya yang mencalonkan dirinya sebagai pemimpin.

Sebagaimana sabda Rosululloh, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada perempuan”(HR. Bukhori dari shahabat Abu Bakroh).

Dan ini juga saya jumpai pada partai yang menisbatkan diri kepada dakwah. Sungguh berapa banyak pelanggaran syari’at Islam yang mereka lakukan demi mengubah sistem yang menurut mereka tidak cocok bagi kehidupan? Ini tidak dapat diterima oleh syari’at karena telah ada nash dari Rosululloh tentang larangan bagi seorang wanita menjadi pemimpin, kecuali pemimpin bagi kaumnya sendiri di kalangan wanita.

Di sini jelaslah kesalahan dari partai-partai (termasuk partai yang menisbatkan diri kepada dakwah) yang mencalonkan perempuan sebagai pemimpin umum. Alangkah buruknya perbuatan mereka padahal mereka mengatas namakan partainya sebagai partai dakwah!


Islam telah meletakkan peran masing-masing bagi laki-laki dan wanita. Keseimbangan kehidupan akan terealisasi manakala peran masing-masing dapat berjalan sesuai dengan aturannya. Ketika kita melihat pelanggaran yang mencakup beralihnya peran masing-masing yang telah ditentukan, maka yang kita lihat hanyalah kerusakan demi kerusakan. Bukankah ketidak stabilan alam dikarenakan ketidak stabilan dalam menjalankan peran masing-masing komponen? Demikian juga kehidupan manusia, kestabilan kehidupan akan tercapai manakala setiap manusia merealisasikan peran masing-masing.

Pelanggaran kedua: Ikut serta dalam pencalonan diri sebagai pemimpin.

Dalilnya adalah perkataan Rosululloh kepada ‘Abdurrohman bin Samuroh, “Ya ‘Abdurrohman bin Samuroh, laa tas`alil imaroh (hai Abdurrohman jangan engkau mengemis kepemimpinan). Jika engkau menjadi pemimpin karena engkau memintanya, maka ia akan diserahkan kepadamu. Jika engkau menjadi seorang pemimpin karena engkau diminta, maka engkau akan ditolong (dalam menjalankan tugas kepemimpinan tersebut)” (HR. Abu Dawud)

Dan kita lihat, semua peserta pemilu telah melakukan pelanggaran ini! Termasuk partai yang mengatakan dirinya sebagai pejuang syari’at Islam. Apakah ini diperbolehkan? Tidak sama sekali. Sebuah niat yang baik harus didukung pula dengan aksi yang baik yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Bagaimana mungkin seseorang akan bisa memperjuangkan Islam sementara aksi yang ia lakukan justru melanggar syari’at Islam? Ini adalah sesuatu yang aneh bukan?

Sumber : Catatan Akh http://www.facebook.com/aqil.azizi1

4 Tanggapan

  1. Mau dipimpin terus oleh orang-orang yang tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk mempraktekkan hukum Islam?

    semua ada prosesnya bro. jangan tergesa-gesa.

    • Kang mas “Aku” betul semua ada prosesnya…tapi kang mas wis baca artikel diatas dengan seksama belum? Mohon kang mas jangan nyimpulin dulu sebelum paham dan memahami artikel diatas.

  2. ada sebagian yang benar dan ada sebagian yang perlu dikoreksi. yang pasti, akan sangat merendahkan saat meminta jabatan tetapi berbeda kasusnya jika mereka diminta dan tidak meminta.:)

    • betul kui mas Ie…tapi adakah yang tidak meminta jabatan? adakah yang tidak meminta di pilih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: