Pengertian Kelompok Sesat


Syeikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i -rahimahullah- mendapat pertanyaan sebagai berikut,

هل الإخوان المسلمون يدخلون تحت مسمى الفرقة الناجية، والطائفة المنصورة، أهل السنة والجماعة منهجًا وأفرادًا أم لا؟

“Apakah al Ikhwan al Muslimun (IM) itu termasuk firqoh najiyyah (golongan yang selamat), thoifah manshuroh (golongan yang mendapatkan pertolongan), ahli sunah wal jamaah secara manhaj kelompok dan person-personnya ataukah tidak?”.

الجواب: أما المنهج فمنهج مبتدع من تأسيسه ومن أول أمره، فالمؤسس كان يطوف بالقبور وهو حسن البنا، ويدعو إلى التقريب بين السنة والشيعة، ويحتفل بالموالد، فالمنهج من أول أمره منهج مبتدع ضال.

Jawaban beliau, “Adapun manhaj atau jalan IM secara kelompok adalah jalan yang bid’ah semenjak awal berdirinya dan semenjak pertama kali keberadaannya. Pendiri IM yaitu Hasan al Banna adalah orang yang tawaf mengelilingi kubur, mempropagandakan upaya mendekatkan sunnah dan syi’ah dan merayakan maulid Nabi. Jadi manhaj atau jalan beragama IM secara kelompok adalah manhaj yang bid’ah dan sesat.

أما الأفراد فلا نستطيع أن نجري عليهم حكمًا عامًا، فمن كان يعرف أفكار حسن البنا المبتدع ثم يمشي بعدها فهو ضال، ومن كان لا يعرف هذا ودخل معهم باسم أنه ينصر الإسلام والمسلمين ولا يعرف حقيقة أمرهم فلسنا نحكم عليه بشيء، لكننا نعتبره مخطئًا ويجب عليه أن يعيد النظر حتى لا يضيع عمره بعد الأناشيد والتمثيليات، وانتهاز الفرص لجمع الأموال.

Sedangkan person yang ada dalam IM maka kami tidak bisa memberi penilaian secara general. Sehingga perlu kita rinci:

a. Person yang mengetahui pemikiran-pemikiran Hasan al Banna kemudian masih tetap mengikutinya maka orang tersebut adalah orang yang sesat.

b. Sedangkan orang yang tidak mengetahui hal ini dan bergabung bersama mereka karena beranggapan bahwa IM itu menolong Islam dan kaum muslimin serta tidak mengetahui hakikat IM yang sebenarnya maka kita tidak bisa memberi penilaian sesat terhadap orang tersebut. Akan tetapi kita menilainya sebagai orang yang keliru. Orang tersebut berkewajiban untuk melakukan pengkajian ulang supaya waktu dan umurnya tidak terbuang sia-sia dikarenakan sibuk dengan nasyid dan sandiwara serta memanfaatkan berbagai kesempatan untuk mengumpulkan harta”

[Tuhfah al Mujib fi As-ilah al Hadhir wa al Gharib, terbitan Dar Haramain Kairo, halaman 101, cetakan pertama 1424 H].

***

Dalam keterangan di atas terdapat kaedah dalam penilaian yang sangat penting namun dilalaikan oleh banyak orang.

Kaedah tersebut yaitu penilaian sesat yang diberikan oleh para ulama ahli sunah terhadap suatu kelompok adalah penilaian terhadap manhaj atau jalan beragama kelompok tersebut, bukan penilaian untuk semua person atau anggota kelompok tersebut.

Sedangkan penilaian untuk masing-masing person atau anggota kelompok tersebut maka itu tergantung keadaan person tersebut, apakah dia mengetahui letak kesesatan manhaj atau jalan beragama kelompok tersebut ataukah tidak. Hanya orang yang telah mengetahui letak penyimpangan dan kesesatan kelompok tersebut namun masih saja mendukung kesesatan tersebutlah yang dinilai sebagai orang yang sesat sebagaimana sesatnya kelompok yang dia ikuti.

Contoh lain selain kelompok yang telah dibahas dalam fatwa di atas adalah LDII. Ketika kita nilai bahwa LDII adalah kelompok sesat maka hal ini bukanlah berarti kita menilai semua anggota LDII adalah orang sesat. Untuk person dan anggota LDII kita perlu memberi rincian. Anggota yang telah mengetahui kesesatan LDII dalam masalah takfir (tuduhan kafir) kepada orang yang berada di luar LDII dan sisi kesesatan yang lain, itulah orang yang kita nilai sebagai orang yang sesat dan ahli bid’ah. Sedangkan orang LDII yang masuk LDII karena kepolosannya dan karena dia mengira LDII itu berada dalam kebenaran lantaran materi kajiannya adalah al Qur’an, kutub sittah (enam buku induk dalam bidang hadits) dan kitab yang jumlahnya 13 yang seluruhnya hanya berisi ayat al Qur’an dan hadits nabi maka orang semacam ini tidak kita nilai sebagai orang yang sesat atau ahli bid’ah. Orang tersebut hanya kita nilai sebagai orang yang keliru secara tidak sengaja dan orang yang salah jalan dikarenakan tertipu dengan penampilan luar dari LDII.

Dengan memahami kaedah ini secara baik maka kita akan bisa memahami perkataan para ulama dengan tepat dan lebih bisa bersikap arif dan bijaksana dalam bersikap dan memberi penilaian.

Sungguh ilmu itu sangat indah dan bernilai. Semoga kita selalu menjadi pencarinya.

Sumber : http://ustadzaris.com/pengertian-kelompok-sesat

Dialog anggota LDII dengan mantan LDII (Dialog 1)


Dialog 1

Mereka bertanya :

Bagaimana mungkin orang Islam selain L*** tidak kafir? Saya ingin anda menjawabnya dengan hadits-hadits dalam Kutubusittah yang sudah dimangkulkan dalam jama’ah !!!

Penulis menjawab :

Jika bapak mengatakan Islam, maka Islam itu pengertiannya sebagaimana adanya dalam hadits-hadits.

Seperti yang diriwayatkan oleh Muslim, kitabu Iman bab 1 hadits no.1, dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu’anhu, yaitu hadits terkenal tentang Jibril ‘alaihisalam yang datang kehadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasalam.

Jibril ‘alaihisalam berkata : ‘Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam’, maka Nabi shallallahu’alaihiwasalam menjawab :

الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا

‘Islam adalah bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana’.

Jibril pun pun berkata :

صدقت

‘Benarlah engkau’.

Setelah Jibril pergi, Nabi shallallahu’alaihiwasalam pun bersabda :

فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم

‘Dia adalah Jibril, yang telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian”.

Inilah definisi Islam yang sesuai dalil, andaikata tidak ditambah dan tidak dikurangi maka telah cukup untuk memasukan seseorang itu ke surga. Dalilnya adalah datangnya seorang A’rob kepada Nabi shallallahu’alaihi wasalam dan berkata: “Ajarkan kepadaku suatu amal yang apabila ku amalkan maka aku masuk surga karenanya”.

Nabi shallallahu’alaihi wasalam menjawab, “Sembahlah Allah, jangan dipersekutukan dengan-Nya sesuatu. Dirikanlah shalat wajib, bayarlah zakat fardhu dan puasalah dibulan Ramadhan”.

Kemudian orang A’rob itu berkata,

والذي نفسي بيده لا أزيد على هذا شيئا أبدا ولا أنقص منه

“Demi Allah, yang diriku ditangan-Nya, tidak akan ku tambah ini selamanya, dan tidak akan kukurangi”.

Ketika orang itu telah pergi Nabi shallallahu’alaihi wasalam bersabda,

من سره أن ينظر إلى رجل من أهل الجنة فلينظر إلى هذا

“Siapa yang ingin melihat penghuni surga lihatlah orang itu”. (Muslim no. 14).

Ini bukan pendapat pribadi, perkataan ulama, atau pendapat seorang imam, melainkan sabda Rasulullah shallallhu’alaihi salam dan dibenarkan oleh Jibril ‘alaihisalam. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an :

…لا يضل ربي ولا ينسى

…Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa; (Ath-Thahaa 52).

Jika ada sesuatu ibadah tidak termasuk dalam rukun Islam, tentu ada hikmah besar didalamnya, yang tidak mungkin Allah Ta’ala melupakan dan melalaikannya.

Seperti masalah keimaman, kita sepakat bahwa hal itu adalah masalah wajib. Akan tetapi masalah ini tidak boleh diangkat melebihi sesuatu yang lebih wajib lagi (seperti rukun Islam diatas). Seperti kita ketahui, umat Islam berkali-kali berselisih mengenai masalah keimaman ini, bahkan para sahabatpun berselisih!!! Seperti yang terjadi pada Perang Jamal, Perang Shifin dan lainnya. Dan tidak mungkin seorang Islam yang bertauhid dan menjalankan ad-Dinnya dikafirkan gara-gara perselisihan sesama manusia yang bersifat sementara seperti keimaman ini.

Saya akan menjelaskannya dengan sudut pandang bahwa jama’ah anda adalah jama’ah yang benar, supaya anda tahu bahwa kalau anda berpikir jernih, menurut sudut pandang anda sendiri kaum muslimin selain kelompok anda tidak bisa dikafirkan.

Berikut ini penjelasannya :

1. Bukankah banyak orang Islam yang mengetahui dan meyakini kewajiban berimam, berbai’at dan berjama’ah, tetapi tidak mau bergabung dengan jama’ah anda sebab:

– Tidak meyakini bahwa jama’ah anda dibai’at pertama kali,

– Tidak setuju karena tidak dibai’at oleh tokoh-tokoh masyarakat (ulama dan umaro),

– Tidak setuju karena tidak berdasarkan musyawarah kaum muslimin,

– Tidak setuju karena tidak memiliki kekuasaan,

– Tidak setuju sebab yang dimaksud hadits adalah bagi imam seluruh kaum muslimin bukan sebagian kaum muslimin, dan lain sebagainya?!!.

Mereka tidak mau bergabung bukan karena ingkar kepada dalilnya. Sedangkan anda tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja, sebab mereka ini juga berdasarkan dalil (bukan ro’yu).

Sebagian orang Islam yang berkata : “Kami tidak yakin kelompok anda dibai’at pertama kali”. Sebenarnya mereka menanyakan bukti yang jelas, sebagaimana Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

البينة على المدعي واليمين على المدعى عليه

“(Harus ada) bukti bagi yang mendakwa dan sumpah bagi yang didakwa”. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 1341).

Jika buktinya hanya perkataan-perkataan teman-teman anda sendiri, maka yang demikian bukan bukti. Sebagaimana Allah Ta’ala memberikan bukti kepada manusia tatkala diutus oleh-Nya seorang Rasul, yaitu dengan mukjizat-mukjizat yang bisa dilihat dan diketahui baik oleh orang iman ataupun orang kafir.

Sebagian orang Islam yang berkata : “Imam anda tidak dibai’at oleh tokoh-tokoh masyarakat atau tidak oleh musyawaroh kaum muslimin”, ada hujjahnya, yaitu ketika Abu Bakar radhiyallahu’anhu yang dibai’at pertama kali oleh Umar radhiyallahu’anhu sedangkan Umar adalah tokoh kaum muslimin waktu itu, pembai’atan itupun dilakukan dalam suatu forum musyawaroh para sahabat, sehingga diikutilah bai’at itu oleh peserta musyawaroh yang lainnya dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Jadi pada peristiwa pembai’atan Abu Bakar ini ada setidaknya dua kaidah yang merupakan syarat sahnya seorang imam:

· Dibai’at oleh tokoh-tokoh masyarakat

· Atau berdasarkan ijma musyawarah kaum muslimin (perwakilannya)

Itulah makna perkataan Umar ibn Khattab radhiyallahu’anhu:

فمن بايع أميرا عن غير مشورة المسلمين فلا بيعة له

“Barangsiapa membai’at seorang amir tanpa musyawarah dengan kaum muslimin terlebih dahulu, maka tidak ada bai’at baginya”. (Bukhari no. 6329).

Sebagian orang Islam yang berkata : “Imam anda tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan”, ada hujjahnya, sebab demikianlah fungsi imam seperti yang disebutkan oleh hadits-hadits, seperti hadits :

إنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به

“Sesungguhnya imam itu bagaikan perisai, digunakan untuk berperang dari belakangnya dan sebagai pelindung. (Bukhari no. 2737, Muslim no. 1841 juga oleh Nasai no. 4196).

Sedangkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam melarang orang yang tidak memiliki kekuatan, dijadikan amir (pemimpin) sebagaimana dalam hadits:

يا أبا ذر إني أراك ضعيفا وإني أحب لك ما أحب لنفسي لا تأمرن على اثنين ولا تولين مال يتيم

‘Hai Abu Dzar sesungguhnya aku melihatmu lemah dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang kucintai untuk diriku, janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan janganlah sekali-kali engkau mengurus harta anak yatim”. (Shahih Muslim no. 1826).

Dalam riwayat lain:

عن أبي ذر قال قلت يا رسول الله ألا تستعملني قال فضرب بيده على منكبي ثم قال يا أبا ذر إنك ضعيف وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة إلا من أخذها بحقها وأدى الذي عليه فيها

Dari Abu Dzar, ia berkata, “Aku berkata, ‘Hai Rasulullah! Tidaklah engkau memperkerjakan aku?’ Ia berkata, ‘Maka beliau menepuk pundakku dengan tangannya kemudian bersabda, ‘Hai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya pekerjaan itu adalah amanah, dan sesungguhnya ia adalah kehinaan dan penyesalan di hari Kiamat kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban padanya”. (Shahih Muslim no. 1825)

Sedangkan kewajiban imam itu adalah menegakan hudud, melindungi rakyatnya dari kedzaliman, berjihad dan sebagainya?!!!.

Bahkan seandainya bai’at yang tidak mensyaratkan kekuasaan itu dibenarkan, maka akan tercipta dalam satu negara ribuan bai’at dan ribuan imam (sebab tidak mensyaratkan kekuasaan). Yang demikian ini tentu kebatilan yang nyata.

Sebagian orang Islam yang berkata : “Perintah berjama’ah, berbai’at dan beramir itu adalah untuk jama’atul muslimin dan imamnya, bukan untuk jama’ah minal muslimin (jama’ah sebagian orang Islam)”. Perkataan ini juga berdasarkan dalil, yaitu hadits Hudzaifah radhiyallahu’anhu:

قال: “تلزم جماعة المسلمين وإمامهم”.

Beliau (Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam) bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jama’atul Muslimin dan imamnya”.

Jika kita memperhatikan, hadits itu secara jelas menyebutkan: Jama’atul Muslimin (jama’ah seluruh kaum muslimin) dan imamnya”, Nabi shallallahu’alaihi wasalam tidak mengatakan ‘Jama’ah minal muslimin (jama’ah sebagian orang Islam) dan imamnya”.

Bahkan kelanjutan hadits itu makin menjelaskan hal ini:

فقلت: “فإن لم تكن لهم جماعة ولا إمام؟”.

قال: “فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض على أصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك”.

Hudzaifah bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?”.

Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon (‘ashlu syajarah’) hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Bukhari no. 3411, Muslim no. 1847)

Perhatikan perkataan beliau “Hindarilah semua firqah (kelompok) itu”, sebagai penjelasan perkataan sebelumnya bahwa kelompok-kelompok (jama’ah minal muslimin/jama’ah sebagian orang islam) akan ada, tapi Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam melarang kita bergabung dengan salah satu kelompok jama’ah minal muslimin yang ada.

Mereka beralasan pula, jika yang dimaksud imam yang kalau kita tidak bai’at kepadanya kita diancam mati jahiliyah adalah imam-imam jama’ah-jama’ah minal muslimin (sebagian orang Islam) seperti yang ada sekarang, bagaimana mungkin Nabi shallallahu’alahi wasalam dalam hadits diatas menyuruh umatnya untuk ‘mati jahiliyah’ karena tidak membaiat salah satu kelompok (jama’ah minal muslimin) yang ada?.

Bahkan, apabila kita katakan tentang bolehnya bai’at kepada selain imam jama’atul muslimin, maka apakah itu khusus pada kelompok-kelompok tertentu? Atau bahwa itu boleh untuk seluruh kelompok umat dan pribadi-pribadinya?. Jika kita jawab: Ya, pada soal pertama, maka hal itu adalah batil dan merupakan suatu pembuatan syari’at yang tidak diizinkan Allah, karena tidak ada wahyu yang mengkhususkan beberapa manusia tertentu dengan sesuatu tanpa yang lain setelah wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam.

Dan jika kita jawab, soal kedua dengan: Ya, maka sesungguhnya kita telah memecah belah perkara kaum muslimin, menceraiberaikan persatuan mereka dan mematahkan kekuatan mereka. Dan dari sana maka hal itu akan membuka pintu yang tidak tertutup kemungkinan bagi ribuan bai’at, lantas akan datang siapa yang berkeinginan, membai’at siapa yang dia kehendaki, dan ini termasuk perkara yang batil.

Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam:

…فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر

“…. Jika ada orang lain yang merebut (keimaman)-nya penggallah lehernya”.

(Muslim no. 1844, Abu Dawud no. 4248 dan lainnya).

Artinya harus hanya ada satu bai’at, yaitu untuk imam yang tertinggi, yang berkuasa, disatu negara.

Dengan demikian mereka yang tidak membai’at imam anda juga berdasarkan nash-nash yang jelas, dan kalaupun mereka dianggap salah dalam ijthadnya itu, tidak boleh kita mengkafirkan mereka, sebab siapapun pendapatnya dapat diambil dan ditinggalkan kecuali Rasullullah shallallahu’alaihi wasalam. Dan tidak semua orang yang Islam sebagian pendapatnya ditinggalkan karena kesalahan yang dilakukan, lalu dikafirkan atau dicap fasik, bahkan berdosa pun tidak, sebab Allah Ta’ala berfirman dalam doa kaum Mukmin:

ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا

“…Wahai Rabb kami janganlah Engkau hukum kami bila kami lupa atau bersalah…” [Al-Baqarah 286]. Dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ’alaihi wasalam bahwa Allah Ta’ala telah menjawab doa diatas dengan firman-Nya:

قد فعلت

“Telah Kulakukan”. (Muslim no. 126).

2. Adapula orang-orang Islam yang bodoh, yang tidak paham dengan masalah imamah ini, lalu tidak mau berjama’ah, berimam dan berbai’at, sedangkan Allah Ta’ala memaafkan mereka dengan firman-Nya,

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (Al-Baqarah 286).

Banyak dalil lain mengenai hal ini, diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Bukhari (no. 3478, 3481) dan Muslim (no. 2756, 2757) : Ada seorang laki-laki yang tidak pernah melakukan amal kebaikan sama sekali, lalu menyuruh anaknya bila mati agar jasadnya dibakar lalu abunya ditebar ke laut pada saat angin bertiup kencang. Ia berkata : “Demi Allah jika Dia mampu membangkitkanku tentu akan mengadzabku dengan adzab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun”. (Tetapi) kemudian Allah mengampuninya”.

Orang ini ragu terhadap Qadar Allah dan kemampuan-Nya untuk membangkitkannya kembali setelah tulangnya hancur menjadi debu, bahkan berkeyakinan bahwa ia tidak akan dibangkitkan kembali. Tentu ini adalah kekufuran menurut kesepakatan seluruh kaum muslimin. Akan tetapi ia seorang yang tidak mengerti akan itu semua, sedang ia mukmin yang takut pada siksa Allah, maka ia diampuni karena hal itu.

Maka jika dalam masalah seperti itu saja mereka bisa diampuni sebab kebodohannya dan rasa takutnya kepada Allah, maka bagaimana dengan masalah keimaman yang kadangkala sulit dipahami bagi sebagian orang?. Sedangkan dalam mengkafirkan seseorang, diharuskan orang itu mengetahui bahwa tindak penyimpangannya itu menyebabkan dirinya kafir. Allah Ta’ala berfirman :

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali (An-Nisa 115).

Pada ayat ini dijelaskan bahwa syarat seseorang dijatuhi hukuman neraka jahanam adalah setelah dia menentang Rasul, dan telah jelas baginya kebenaran yang disampaikan oleh Rasul itu.

3. Ada juga orang Islam yang terpaksa tidak berjama’ah, berimam dan berbai’at, karena takut dan terancam jiwanya, sedangkan Allah Ta’ala memaafkan mereka, dengan firman-Nya,

من كفر بالله من بعد إيمانه إلا من أكره وقلبه مطمئن بالإيمان ولكن من شرح بالكفر صدرا فعليهم غضب من الله ولهم عذاب عظيم

Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar [An-Nahl 106].

Maka kitapun tidak boleh mengkafirkan mereka.

4. Ada juga orang Islam yang tidak tahu sama sekali masalah jama’ah, bai’at dan imamah ini, sedangkan Allah Ta’ala berfirman,

وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا

“…dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (Al-Israa 15).

Sedangkan kelompok anda sendiri, kadangkala tidak pernah terang-terangan mendakwahi mereka. Bahkan berpura-pura tidak ada pemahaman tentang imamah, bai’at dan jama’ah.

Oleh sebab itu, hendaknya tidak juga mengkafirkan orang-orang seperti ini.

Kesimpulannya:

Dengan sudut pandang seperti ini pun sebenarnya keadaan orang Islam selain jama’ah anda tidak bisa dikafirkan hanya karena tidak mau gabung atau tidak termasuk kelompok anda.

Sumber : http://rumahku-indah.blogspot.com

Inilah Daftar Kesesatan Ahmadiyah dan LDII


Menurut LPPI & Nahimunkar.com

Berikut ini adalah daftar kesesatan dan penyimpangan akidah Islam oleh kelompok Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Artikel ini adalah hasil penelitian Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) berjudul “Kesesatan LDII dan Ahmadiyah” yang dirilis nahimunkar.com.

A. KESESATAN AHMADIYAH

1. Penodaan Agama Ahmadiyah dengan Nabi Palsunya Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908M). Mirza Ghulam Ahmad mengaku diutus Allah (sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam):

اِنَّا اَرْسَلْنَا اَحْمَدَ اِلَى قَوْمِهِ فَاَعْرَضُوْا وَقَالُوْا كَذَّابٌ اَشِرٌ

“Sesungguhnya Kami mengutus Ahmad kepada kaumnya, akan tetapi mereka berpaling dan mereka berkata: seorang yang amat pendusta lagi sombong” (Tadzkirah, halaman 385).

Bandingkan dengan ayat Al-Qur’an:

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih” (QS Nuh: 1).

Dalam Tadzkirah itu, Mirza Ghulam Ahmad berdusta, mengatasnamakan Allah telah mengutus Ahmad (yaitu Mirza Ghulam Ahmad) kepada kaumnya. Mirza Ghulam Ahmad telah berdusta, mengangkat dirinya sebagai Rasul utusan Allah, disejajarkan dengan Nabi Nuh as yang telah Allah utus. Hingga di ayat-ayat buatan Mirza Ghulam Ahmad dibuat juga seruan dusta atas nama Allah agar Mirza Ghulam Ahmad membuat perahu.

2. Mirza Ghulam Ahmad mengaku diutus Allah untuk seluruh manusia (sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam):

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْ نِىْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ – وَقُلْ يَآاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّى رَسُوْلُ اللهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا

Artinya: “Katakanlah (wahai Ahmad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu – dan katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”. (Tadzkirah hal: 352)

Catatan dari LPPI:

Ayat-ayat ini adalah rangkaian dari beberapa ayat suci Al-Qur’an, yaitu surat Ali Imran 31 dan surat Al-A’raf 158.

Semua ayat ini dibajak dengan perubahan, penambahan, dan pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat dalam Kitab Suci Ahmadiyah “TADZKIRAH”.

3. Ghulam Ahmad membajak ayat-ayat Al-Qur’an tentang Nabi Isa as namun dimaksudkan untuk diri Mirza.

وَ لِنَجْعَلَهُ اَيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّا وَكَانَ اَمْرًامَقْضِيًّا – يَاعِيْسَى اِنِّى مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَىَّ وَ مُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيُنَ كَفَرُوْا اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ – ثُلَّةٌ مِنَ اْلاَوَّ لِيْنَ وَثُلَّةٌ مِنَ اْلآَخِرِيْنَ

Artinya:“Dan agar Kami dapat menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan – Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku dan mensucikanmu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat – Yaitu Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar (pula) dari orang yang kemudian”. (Tadzkirah hal: 396)

Catatan dari LPPI:

Ayat-ayat ini adalah rangkaian dari beberapa ayat suci Al-Qur’an, yaitu surat Maryam ayat 21, Ali Imran ayat 55, dan Al-Waqi’ah ayat 39-40.

Semua ayat ini dibajak dengan perubahan, penambahan, dan pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat dalam Kitab Suci Ahmadiyah “TADZKIRAH”.

4. Ahmadiyah Memiliki Kitab Suci sendiri namanya Tadzkirah, yaitu kumpulan wahyu suci (wahyu muqoddas). Mirza Ghulam Ahmad mengaku diberi wahyu Allah:

اِنَّ السَّمَوَاتِ وَالاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا- قُلْ اِنَّمَا اَناَ بَشَرٌ يُّوْحَى اِلَيَّ َانَّمَآ اِلَهُكُمْ اِلَهٌ وَاحِدٌ

Artinya: “Bahwasanya langit dan bumi itu keduanya adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya – katakanlah sesungguhnya aku (Ahmad) ini manusia, yang diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha Esa”. (Tadzkirah halaman: 245)

Ayat-ayat buatan Mirza Ghulam Ahmad itu dicomot dari sana-sini dengan mengadakan pengurangan dari ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan penyambungan yang semau-maunya yaitu surat Al-Anbiya’ ayat 30 dan surat Al-Kahfi ayat 110.

أَوَلَمْ يَرَالَّذِيْنَ كَفَرُوْآ أَنَّ السَّمَوَاتِ وَالاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا

Artinya: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”. (Qs Al-Anbiya: 30).

قُلْ اِنَّمَآ اَناَ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَى اِلَيَّ أَ نَّمَآ اِلَهُكُمْ اِلَهٌ وَاحِد

Artinya: “Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. (Qs. Al-Kahfi: 110).

Semua ayat ini dibajak dengan perubahan maksud, pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat dalam Kitab Suci Ahmadiyah “TADZKIRAH”. Ketika ayat Al-Qur’an bicara qul (katakanlah) di situ maksudnya adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga manusia yang diberi wahyu dalam ayat Al-Qur’an itu adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun secara licik, Mirza Ghulam Ahmad telah memlintir maksud ayat Al-Qur’an itu ketika dia masukkan ke dalam apa yang dia klaim sebagai wahyu untuk dirinya, maka manusia yang diberi wahyu itu adalah Mirza Ghulam Ahmad. Ini jelas-jelas Mirza Ghulam Ahmad telah berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekaligus menyelewengkan dan menodai kitab suci umat Islam, Al-Qur’anul Karim, dengan cara keji.

5. Merusak aqidah/keyakinan Islam:

a. Mirza Ghulam Ahmad mengaku bahwa Allah itu berasal dari Mirza Ghulam Ahmad

اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ

“Kamu berasal dari-Ku dan Aku darimu” (Tadzkirah, halaman 436).

b. Mirza Ghulam Ahmad, mengaku berkedudukan sebagai anak Allah. Ini Allah dianggap punya anak:

اَ نْتَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ وَلَدِىْ

“Kamu di di sisi-Ku pada ke-dudukan anak-Ku” (Tadzkirah halaman 636).

6. Menganggap semua orang Islam yang tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul adalah musuh. Kitab Tadzkirah halaman 402:

سَيَقُوْلُ الْعَدُوُّ لَسْتَ مُرْسَلاً

“Musuh akan berkata: kamu (Mirza Ghulam Ahmad) bukanlah orang yang diutus (Rasul)” (Tadzkirah halaman 402)

7. Selain golongannya maka dianggap kafir dan dilaknat.

Tadzkirah, halaman 748-749:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الَّذِىْ كَفَرَ

“Laknat Allah ditimpakan atas orang yang kufur.”

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

“Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur.”

بُوْرِكَ مَنْ مَّعَكَ وَمَنْ حَوْلَكَ.

“Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur.”

8. Memutar balikkan ayat-ayat Al-Qur’an. Contohnya:

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ مَاكَانَ لَهُ اَنْ يَّدْخُلَ فِيْهَا اِلاَّ خَائِفًا

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa – Dia itu tidak masuk ke dalamnya (neraka), kecuali dengan rasa takut.”

Di dalam Al-Qur’an, bunyi ayatnya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَب مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَب

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” (Qs Al-Lahab: 1-2).

A. BUKTI-BUKTI KESESATAN LDII

Bukti-bukti kesesatan LDII, Fatwa-fatwa tentang sesatnya, dan pelarangan Islam Jama’ah dan apapun namanya yang bersifat/ berajaran serupa

1. LDII sesat.

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan Ahmadiyah agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah. MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan BAKORPAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

2. Menganggap kafir orang Muslim di luar jamaah LDII.

Dalam Makalah LDII dinyatakan: “Dan dalam nasihat supaya ditekankan bahwa bagaimanapun juga cantiknya dan gantengnya orang-orang di luar jama’ah, mereka itu adalah orang kafir, musuh Allah, musuh orang iman, calon ahli neraka, yang tidak boleh dikasihi,” (Makalah LDII berjudul Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama’ah dengan kode H/97, halaman 8).

3. Surat 21 orang keluarga R. Didi Garnadi dari Cimahi Bandung menyatakan sadar, insyaf, taubat dan mencabut Bai’at mereka terhadap LDII, Oktober 1999. Dalam surat itu dinyatakan di antara kejanggalan LDII hingga mereka bertaubat dan keluar dari LDII, karena: Dilarang menikah dengan orang luar Kerajaan Mafia Islam jama’ah, LEMKARI, LDII karena dihukumi Najis dan dalam kefahaman Kerajaan Mafia Islam Jama’ah, LEMKARI, LDII bahwa mereka itu BINATANG. (Lihat: surat 21 orang dari Cimahi Bandung yang mencabut bai’atnya terhadap LDII alias keluar ramai-ramai dari LDII, surat ditujukan kepada DPP LDII, Imam Amirul Mu’minin Pusat , dan pimpinan cabang LDII Cimahi Bandung, Oktober 1999, dimuat di buku Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 276- 280).

4. Menganggap najis Muslimin di luar jama’ah LDII dengan cap sangat jorok, turuk bosok (vagina busuk). Ungkapan Imam LDII dalam teks yang berjudul Rangkuman Nasehat Bapak Imam di CAI (Cinta Alam Indonesia, semacam jamboree nasional tapi khusus untuk muda mudi LDII) di Wonosalam Jombang tahun 2000. Pada poin ke-20 (dari 50 poin dalam 11 halaman): “Dengan banyaknya bermunculan jamaah-jamaah sekarang ini, semakin memperkuat kedudukan jamaah kita (maksudnya, LDII, pen. ). Karena betul-betul yang pertama ya jamaah kita. Maka dari itu jangan sampai kefahamannya berubah, sana dianggap baik, sana dianggap benar, akhirnya terpengaruh ikut sana. Kefahaman dan keyakinan kita supaya dipolkan. Bahwa yang betul-betul wajib masuk sorga ya kita ini. Lainnya turuk bosok kabeh.” (CAI 2000, Rangkuman Nasihat Bapak Imam di CAI Wonosalam. Pada poin ke-20 (dari 50 poin dalam 11 halaman).

5. Menganggap sholat orang Muslim selain LDII tidak sah, hingga dalam kenyataan, biasanya orang LDII tak mau makmum kepada selain golongannya, hingga mereka membuat masjid-masjid untuk golongan LDII.

Bagaimanapun LDII tidak bisa mengelak dengan dalih apapun, misalnya mengaku bahwa mereka sudah memakai paradigma baru, bukan model Nur Hasan Ubaidah. Itu tidak bisa. Sebab di akhir buku Kitabussholah yang ada Nur Hasan Ubaidah dengan nama ‘Ubaidah bin Abdul Aziz di halaman 124 itu di akhir buku ditulis: KHUSUS UNTUK INTERN WARGA LDII.

Jadi pengakuan LDII bahwa sekarang sudah memakai paradigma baru, lain dengan yang lama, itu dusta alias bohong.

6. Penipuan Triliunan Rupiah: Kasus tahun 2002/2003 ramai di Jawa Timur tentang banyaknya korban apa yang disebut investasi yang dikelola dan dikampanyekan oleh para tokoh LDII dengan iming-iming bunga 5% perbulan. Ternyata investasi itu ada tanda-tanda duit yang telah disetor sangat sulit diambil, apalagi bunga yang dijanjikan. Padahal dalam perjanjian, duit yang disetor bisa diambil kapan saja. Jumlah duit yang disetor para korban mencapai hampir 11 triliun rupiah. Di antara korban itu ada yang menyetornya ke isteri amir LDII Abdu Dhahir yakni Umi Salamah sebesar Rp 169 juta dan Rp 70 juta dari penduduk Kertosono Jawa Timur. Dan korban dari Kertosono pula ada yang menyetor ke cucu Nurhasan Ubaidah bernama M Ontorejo alias Oong sebesar Rp22 miliar, Rp 959 juta, dan Rp800 juta. Korban bukan hanya sekitar Jawa Timur, namun ada yang dari Pontianak Rp2 miliar, Jakarta Rp2,5 miliar, dan Bengkulu Rp1 miliar. Paling banyak dari penduduk Kediri Jawa Timur ada kelompok yang sampai jadi korban sebesar Rp900 miliar. (Sumber: Radar Minggu, Jombang, dari 21 Februari sampai Agustus 2003, dan akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah karya HMC Shodiq, LPPI Jakarta, 2004. ).

7. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat: Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 06 Rabiul Awwal 1415H/ 13 Agustus 1994M, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Ketua Umum: KH Hasan Basri, Sekretaris Umum: H. S. Prodjokusumo.

8. Fatwa Majelis Ulama DKI Jakarta: Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 20 Agustus 1979, Dewan Pimpinan Majelis Ulama DKI Jakarta, KH Abdullah Syafi’ie ketua umum, H. Gazali Syahlan sekretaris umum.

9. Pelarangan Islam Jama’ah dengan nama apapun dari Jaksa Agung tahun 1971: Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D. A. /10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa. Menetapkan: Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia. Kedua: Melarang semua adjaran aliran-aliran tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama. Ketiga: Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan: Djakarta pada tanggal: 29 Oktober 1971, Djaksa Agung R. I. tjap. Ttd (Soegih Arto).

10. Kesesatan, penyimpangan, dan tipuan LDII diuraikan dalam buku-buku LPPI tentang Bahaya Islam Jama’ah, Lemkari, LDII (1999); Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah (2004).

11. LDII aliran sempalan yang bisa membahayakan aqidah umat, ditegaskan dalam teks pidato Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Agama Ir. Soetomo, SA, Mayor Jenderal TNI bahwa “Beberapa contoh aliran sempalan Islam yang bisa membahayakan aqidah Islamiyah, yang telah dilarang seperti: Lemkari, LDII, Darul Hadis, Islam Jama’ah.” (Jakarta 12 Februari 2000, Staf Ahli Menhan Bidang Ideologi dan Agama, Ir. Soetomo, SA, Mayor Jendral TNI).

12. LDII dinyatakan sesat oleh MUI karena penjelmaan dari Islam Jamaah. Ketua Komisi fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) KH Ma’ruf Amin menyatakan, Fatwa MUI: LDII sesat. Dalam wawancara dengan Majalah Sabili, KH Ma’ruf Amin menegaskan: Kita sudah mengeluarkan fatwa terbaru pada acara Munas MUI (Juli 2005) yang menyebutkan secara jelas bahwa LDII sesat. Maksudnya, LDII dianggap sebagai penjelamaan dari Islam Jamaah. Itu jelas!” (Sabili, No 21 Th XIII, 4 Mei 2006/ 6 Rabi’ul Akhir 1427, halaman 31).

Kesesatan Sistem Manqul LDII

LDII memiliki sistem manqul. Sistem manqul menurut Nurhasan Ubaidah Lubis adalah: ”Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru; telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat. Terhalang dinding atau lewat buku tidak sah. Sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapat Ijazah dari guru maka ia dibolehkan mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu”. (Drs. Imran AM, Selintas Mengenai Islam Jama’ah dan Ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993, hal. 24).

Kemudian di Indonesia ini satu-satunya ulama yang ilmu agamanya manqul hanyalah Nurhasan Ubaidah Lubis.

Ajaran ini bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. yang memerintahkan agar siapa saja yang mendengarkan ucapannya hendaklah memelihara apa yang didengarnya itu, kemudian disampaikan kepada orang lain, dan Nabi tidak pernah mem berikan Ijazah kepada para sahabat. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا، ثُمَّ أَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا.

Artinya: “Semoga Allah mengelokkan orang yang mendengar ucapan lalu menyampaikannya (kepada orang lain) sebagaimana apa yang ia dengar”. (Syafi’i dan Baihaqi).

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kepada orang yang mau mempelajari hadits-haditsnya lalu menyampaikan kepada orang lain seperti yang ia dengar. Adapun cara bagaimana atau alat apa dalam mempelajari dan menyampaikan hadits-haditsnya itu tidak ditentukan. Jadi bisa disampaikan dengan lisan, dengan tulisan, dengan radio, tv dan lain-lainnya. Maka ajaran manqulnya Nurhasan Ubaidah Lubis terlihat mengada-ada. Tujuannya membuat pengikutnya fanatik, tidak dipengaruhi oleh pikiran orang lain, sehingga sangat tergantung dan terikat dengan apa yang digariskan Amirnya (Nurhasan Ubaidah). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala menghargai hamba-hambanya yang mau mendengarkan ucapan, lalu menseleksinya mana yang lebih baik untuk diikutinya. Firman-Nya:

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَاد الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَاب

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (Qs Az-Zumar: 17-18).

Dalam ayat tersebut tidak ada sama sekali keterangan harus manqul dalam mempelajari agama. Bahkan kita diberi kebebasan untuk mendengarkan perkataan, hanya saja hrus mengikuti yang paling baik. Itulah ciri-ciri orang yang mempunyai akal. Dan bukan harus mengikuti manqul dari Nur Hasan Ubaidah yang kini digantikan oleh anaknya, Abdul Aziz, setelah matinya kakaknya yakni Abdu Dhahir. Maka orang yang menetapkan harus/ wajib manqul dari Nur Hasan atau amir itulah ciri-ciri orang yang tidak punya akal. (Lihat: Buku Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI, Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 258- 260).

Intinya, berbagai kesesatan LDII telah nyata di antaranya:

1. Menganggap kafir orang Muslim di luar jama’ah LDII.

2. Menganggap najis Muslimin di luar jama’ah LDII dengan cap sangat jorok, turuk bosok (Jawa: vagina busuk).

3. Menganggap shalat orang Muslim selain LDII tidak sah, hingga orang LDII tak mau makmum kepada selain golongannya.

Bagaimanapun LDII tidak bisa mengelak dengan dalih apapun, misalnya mengaku bahwa mereka sudah memakai paradigma baru, bukan model Nur Hasan Ubaidah. Itu tidak bisa. Sebab di akhir buku Kitabussholah yang ada Nur Hasan Ubaidah dengan nama ‘Ubaidah bin Abdul Aziz di halaman 124 itu di akhir buku ditulis: KHUSUS UNTUK INTERN WARGA LDII. Jadi pengakuan LDII bahwa sekarang sudah memakai paradigma baru, lain dengan yang lama, itu dusta alias bohong.

Diskrispi tentang LDII:

LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Pendiri dan pemimpin tertinggi pertamanya adalah Madigol Nurhasan Ubaidah Lubis bin Abdul bin Thahir bin Irsyad. Lahir di Desa Bangi, Kec. Purwoasri,. Kediri Jawa Timur, Indonesia, tahun 1915 M (Tahun 1908 menurut versi Mundzir Thahir, keponakannya).

Faham yang dianut oleh LDII tidak berbeda dengan aliran Islam Jama’ah/Darul Hadits yang telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D. A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971). Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam Jama’ah yang didirikan pada tahun 1951 oleh Nurhasan Al Ubaidah Lubis (Madigol). Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972, tanggal ini dalam Anggaran Dasar LDII sebagai tanggal berdirinya LDII. Maka perlu dipertanyakan bila mereka bilang bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan LEMKARI atau nama sebelumnya Islam Jama’ah dan sebelumnya lagi Darul Hadits. ). Pengikut tersebut pada pemilu 1971 mendukung GOLKAR.

Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) bertemu dan mendapat konsep asal doktrin imamah dan jama’ah (yaitu: Bai’at, Amir, Jama’ah, Taat) dari seorang Jama’atul Muslimin Hizbullah, yaitu Wali al-Fatah, yang dibai’at

pada tahun 1953 di Jakarta oleh para jama’ah termasuk sang Madigol sendiri. Pada waktu itu Wali al-Fatah adalah Kepala Biro Politik Kementrian Dalam Negeri RI (jaman Bung Karno). Aliran sesat yang telah dilarang Jaksa Agung 1971 ini kemudian dibina oleh mendiang Soedjono Hoermardani dan Jenderal Ali Moertopo. LEMKARI dibekukan di seluruh Jawa Timur oleh pihak penguasa di Jawa Timur atas desakan keras MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim di bawah pimpinan KH. Misbach. LEMKARI diganti nama atas anjuran Jenderal Rudini (Mendagri) dalam Mubes ke-4 Lemkari di Wisma Haji Pondok Gede, Jakarta, 21 November 1990 menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia). (Lihat: Jawa Pos, 22 November 1990, Berita Buana, 22 November 1990, Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 265, 266, 267).

Semua itu digerakkan dengan disiplin dan mobilitas komando “Sistem

Struktur Kerajaan 354″ menjadi kekuatan manqul, berupa: “Bai’at, Jama’ah, Ta’at” yang selalu ditutup rapat-rapat dengan sistem:

“Taqiyyah, Fathonah, Bithonah, Budi luhur Luhuring Budi karena Allah.” (lihat situs: alislam. or. id).

Penyelewengan utamanya: Menganggap Al-Qur’an dan As-Sunnah baru sah diamalkan kalau manqul (yang keluar dari mulut imam atau amirnya), maka anggapan itu sesat. Sebab membuat syarat baru tentang sahnya keislaman orang. Akibatnya, orang yang tidak masuk golongan mereka dianggap kafir dan najis (Lihat surat 21 orang dari Bandung yang mencabut bai’atnya terhadap LDII alias keluar ramai-ramai dari LDII, surat ditujukan kepada DPP LDII, Imam Amirul Mu’minin Pusat , dan pimpinan cabang LDII Cimahi Bandung, Oktober 1999, Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 276- 280).

Itulah kelompok LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang dulunya bernama Lemkari, Islam Jama’ah, Darul Hadits pimpinan Nur Hasan Ubaidah Madigol Lubis (Luar Biasa) Sakeh (Sawahe Akeh/ sawahnya banyak) dari Kediri Jawa Timur yang kini digantikan anaknya, Abdu Dhohir. Penampilan orang sesat model ini: kaku –kasar tidak lemah lembut, ada yang bedigasan, ngotot karena mewarisi sifat kaum khawarij, kadang nyolongan (suka mencuri) karena ada doktrin bahwa mencuri barang selain kelompok mereka itu boleh, dan bohong pun biasa; karena ayat saja oleh amirnya diplintir-plintir untuk kepentingan dirinya. (Lihat buku Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001).

Modus operandinya: Mengajak siapa saja ikut ke pengajian mereka sacara rutin, agar Islamnya benar (menurut mereka). Kalau sudah masuk maka diberi ajaran tentang shalat dan sebagainya berdasarkan hadits, lalu disuntikkan doktrin-doktrin bahwa hanya Islam model manqul itulah yang sah, benar. Hanya jama’ah mereka lah yang benar. Kalau menyelisihi maka masuk neraka, tidak taat amir pun masuk neraka dan sebagainya. Pelanggaran-pelanggaran semacam itu harus ditebus dengan duit. Daripada masuk neraka maka para korban lebih baik menebusnya dengan duit.

Dalam hal duit, bekas murid Nurhasan Ubaidah menceritakan bahwa dulu Nurhasan Ubaidah menarik duit dari jama’ahnya, katanya untuk saham pendirian pabrik tenun. Para jama’ahnya dari Madura sampai Jawa Timur banyak yang menjual sawah, kebun, hewan ternak, perhiasan dan sebagainya untuk disetorkan kepada Nurhasan sebagai saham. Namun ditunggu-tunggu ternyata pabrik tenunnya tidak ada, sedang duit yang telah mereka setorkan pun amblas. Kalau sampai ada yang menanyakannya maka dituduh “tidak taat amir”, resikonya diancam masuk neraka, maka untuk membebaskannya harus membayar pakai duit lagi.

Kasus tahun 2002/2003 ramai di Jawa Timur tentang banyaknya korban apa yang disebut investasi yang dikelola dan dikampanyekan oleh para tokoh LDII dengan iming-iming bunga 5% perbulan. Ternyata investasi itu ada tanda-tanda duit yang telah disetor sangat sulit diambil, apalagi bunga yang dijanjikan. Padahal dalam perjanjian, duit yang disetor bisa diambil kapan saja. Jumlah duit yang disetor para korban mencapai hampir 11 triliun rupiah. (Sumber Radar Minggu, Jombang, dari 21 Februari sampai Agustus 2003, dan akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah karya HMC Shodiq, LPPI Jakarta, 2004). [haji/data ada di LPPI]

Source: http://www.nahimunkar.com/kesesatan-ldii-dan-ahmadiyah/
Sumber : http://www.voa-islam.com

Membongkar Kesesatan LDII : Bantahan Manqul (2)


Dalil-dalil Manqul LDII

Disini akan kami sebutkan dalil-dalil mereka dalam hal manqul dan akan kami jelaskan kedudukan dalil atau pemahaman dari dalil itu – Insya Allah – .

Diantara dalil mereka:
Pertama,
Firman Allah Ta’ala:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِه ِ(16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَه ُ(18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ(19(
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak secepat-cepatnya (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, atas tanggungan kamilah penjelasannya. [Al Qiyamah:16-19]

وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ …(114)
“Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu.” [Thaha:114]
Baca lebih lanjut

Membongkar Kesesatan LDII : Apa itu Manqul (1)


Bismillah. Alhamdulillah.
Bermula dari keinginan hati untuk membahagiakan teman dan kehausan hati ini untuk ikut kajian, akhirnya ajakan teman itu pun kupenuhi. Mulanya biasa-biasa saja dan saya anggap paling itu kajian biasa seperti yang sering saya hadiri. Tapi saya baru sadar bahwa nantinya saya akan ikut ngaji di LDII setelah saya di ajak mampir teman saya itu di rumah saudaranya. Ada kalender bertuliskan LDII dan saudaranya bilang bahwa dia LDII.
Tapi karena saya cuma di ajak, akhirnya saya ikut saja. Alhamdulillah, ternyata saya sudah mengenal manhaj yang haq dan tahu sedikit tentang dakwah yang tauhid itu, mana dakwah yang sesat, menyimpang, dakwah yang menyeru kepada Alloh dan RosulNya, dakwah yang menyeru kepada golongan, firqoh, partai, kyai, ustadz dan lain sebagainya. Jadi bisa menjadi pedoman bagi saya untuk memilah dan memilih.
Saya mulai janggal dengan cara mereka memaknai Al-Qur’an dengan cara manqul (bahkan kitab suci Al-Qur’an di artikan dan ditulis-tulis/dicoret-coret).
Tapi Alhamdulillah kebingunganku yang tak terjawab (pernah saya tanyakan kepada ustadz/Ikhwan pengisi kajian LDII tersebut yang membuat tambah bingung) bisa terjawab dan telah saya temukan di artikel ini.
Semoga bermanfaat dan semoga saudara-saudaraku tidak terjerumus masuk ke firqoh sesat. Mari pelajari manhaj yang haq ini
Antara Al Quran, al Hadits dan ‘Manqul’
Oleh: Qomar ZA

Jangan khawatir…
Jangan takut…
Baca dulu…
Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk.
Baca lebih lanjut